Selamat malem siapapun disana yang masih melek ..
Postingan pertama dipake buat curhat aja dah. Mumpung anak icil bobo dan sang Raja terhempas ke kasur mimpi.
Hem, mulai dari mana yach? ~ch~ ahiw..
Saya kerja jadi honorer di dinas titik titik. Sebetulnya dari awal kerja disana bukan kemauan saya. Tapi dengan iming - iming ada penantian untuk menjadi seorang PNS kelak, dan dukungan "keras" dari mama & bapak, yah ku ikhlaskan diriku ini menuruti kemauan mereka.
Dimanapun kerja, pasti banyak sikut-sikut-an. Mulai dibenci karena saya saudara dari Uwak saya, karena saya suka kritis, karena saya suka serba apdet tau gimana caranya buat ngetik (ini mah termasuk luar biasa, karena di kantor saya yang bisa pake komputer cuma 2 orang, haha).
Berangkat semaunya memang. Biasanya pergi jam 8, sampe jam 9. Perjalannannya pun seperti Sukabumi - Cianjur. Apalagi kalo cuaca semalem hujan, udah lah gak bisa sampe kantor pagi pagi karena jalan ke kantor itu tanah merah / liat yang kalo kebasahan kaya lumpur eskrim. Kebayang kan, kalo bawa motor kesitu gimana? di blender lah kita, sing njuralit hahaha ...
Iya sih, di tipi tipi banyak pejuang honorer yang Masya Allah saya salut sama pengorbanan mereka. Jalan lumpur, sungai deras, laut, jembatan gantung dimana jurang adalah penyangganya mereka lewati.
Iya, mental saya tidak sebaik mereka. Mereka memliki cita - cita untuk memajukan bangsa, bekerja denga bersih dan pantang menyerah. Budaya mereka pun sepertinya baik untuk hal kejujuran, ketelitian, keuangan, dan pengabdian. Berbeda dengan di kota, saling sikut menyikut, saling menjatuhkan, saling mangandalkan, tidak menghargai waktu, dan sering dilanda kemacetan yang membuat mereka mudah untuk "terkontaminasi" hal buruk.
Sementara cita - cita mereka untuk bangsa, cita - cita saya justru jauh sekali dari kata bangsa. Saya hanya ingin mendampingi anak saya masuk TK, mengantarnya sekolah, menerima curahan hatinya, menanyakan kabarnya sepulang sekolah, menemaninya ketika masa puber datang, menyiapkan sarapan terbaik sebagai asupan nutrisi otaknya, menjadi assesor terhadap permintaannya untuk menikah atau dinikahi.. walaupun kelak mereka punya kehidupannya sendiri - sendiri. Sungguh.
Kehilangan momen memandikannya saat bayi karena saya harus berangkat pagi untuk bekerja, adalah pembuangan waktu yang sangat besar bagi saya. Momen saat menyuapinya, momen saat ia tumbuh gigi, demam, tidak bisa tidur, momen ia bisa merangkak, berdiri, berjalan, berlari ... (duh, saya sedih sekali.. T_T)
Suami pun akhirnya mengusulkan agar saya berhenti bekerja dan kembali ke habitat seharusnya. Saya pikir saya disuruh berhenti kerja dan disuruh menjadi ibu rumah tangga (Yeay!). Padahal saya disuruh mengajar di sekolah. Kebetulan ada yang menawarkan posisi kosong untuk mengganti tenaga pengajar yang akan cuti melahirkan. Hanya 2 bulan. Yasudahlah, saya ambil saja. Disamping jaraknya tidak terlalu jauh, banyak waktu luang yang bisa disalurkan untuk anak.
Tapi pada kenyataanya...
Saya harus berangkat lebih pagi, dimana anak saya mungkin saja masih tertidur. Pulang sore hari. Karena sekolah ini mengusung Full Day School. Dan terulang lagi, saya kehilangan momen memandikan dia. Huaaaa.... Sungguh inilah yang menjadi beban saya.
Saya pikir, saya ajukan risain akan diterima di kantor dinas titik titik, ternyata saya tidak diizinkan. Saya kepalang ambil jadwal mengajar, aah kumplitlah saya untuk tidak bertemu anak saya dari pai buta hingga sore melek.
Saya ingin sekali, suami bisa percaya bahwa Rezeki Allah itu pasti. PASTI. Meski saya tidak bekerja, rezeki pun bisa 100%. Saya yakin sekali akan hal itu.
Coba saja anda bayangkan, bangun subuh saya siapkan segala macam untuk sarapan, untuk suami, anak, pakaiannya, lalu pergi bekerja pulang sore hari, dilanjut memasak, cuci piring, kegiata rumah, bermain dengan si kecil, mencuci baju, setrika, menyapu, menidurkan anak, belum suami kalo ada mau, kalo takut subuh kesiangan, saya siapin dari malam hari untuk esok, begitu seterusnya selama 5 hari. Hanya punya 2 full day dengan anak.
Tadinya berat badanku 46. Buatku ini ideal. Semenjak melahirkan, BB terus saja menurun , tidak meningkat, sering pusing kepala, sering pegal pegal, kelelahan.. Makanya, ada yang share soal "Menikah itu ngga enak" ada benernya juga. Hahaha...
Saya ingin stop bekerja, dan hanya memusatkan konsentrasi di rumah saja. Dengan begini saya tidak akan kelelahan.. Ya Alloh Bang ... Aye pengen di rumah aja.. hiks.
![]() |
| ini postingan ku tanggal 04/02/2018 hihi |
Sebelumnya blog ini sudah penuh dengan postingan, sudah banyak yang komentar juga. Hanya saja, saya ingin susasana baru, maka saya refresh lagi, ganti template juga, cuma belum ganti domain nya saja hihi. Semoga suatu hari nanti sudah bisa ganti domain sesuai harapan, aamiin. Jadi, saya kosongkan lagi dari awal semuanya supaya Om Google bisa lebih enak memfilternya. Hihi.
Happy browsing ...

0 Comments